OTOMOTIF
Indeks
Pasar

Putin Soroti Empat Kesalahan Barat terhadap Moskow di Sela KTT BRICS

Presiden Rusia Vladimir Putin kembali menyingkap penilaiannya soal kesalahan NATO Rusia dan kebijakan elite Barat saat berbicara kepada wartawan di sela KTT BRICS di New Delhi. Ia menegaskan bahwa wacana pengerahan pasukan negara-negara NATO Eropa ke Ukraina berpotensi membuka konfrontasi langsung dengan Moskow, sambil menyinggung ketidakpuasan publik Eropa terhadap arah kebijakan yang disebutnya dikendalikan elite globalis.

Pernyataan itu menempatkan isu keamanan Eropa, warisan pasca-Perang Dingin, dan perluasan aliansi militer dalam satu rangkaian kritik. Putin menggambarkan akumulasi keputusan yang menurutnya keliru, lalu mengaitkannya dengan ketegangan yang berlangsung di sekitar Ukraina.

Kesalahan sistemik setelah Perang Dingin

Menurut Putin, persoalan politik dan ekonomi yang kini membebani Eropa lahir dari blunder sistemik para pemimpin kawasan itu. Kesalahan tersebut, ujarnya, mencakup ranah kebijakan luar negeri, keamanan, dan ekonomi sejak berakhirnya Perang Dingin.

Ia menggambarkan elite globalis merasa berada di puncak dan mustahil salah. Keyakinan itu, lanjutnya, justru membuat kekeliruan menumpuk seperti bola salju dan akhirnya memukul balik stabilitas di benua Eropa sendiri.

Ekspansi aliansi ke timur jadi sorotan

Pada dimensi keamanan, pemimpin Kremlin menyoroti perluasan NATO ke arah timur. Upaya menarik Ukraina ke dalam blok militer yang dipimpin Amerika Serikat dipandang Moskow sebagai akar persoalan konflik yang sedang berjalan.

Putin menilai sejumlah pemerintah Barat menakut-nakuti warganya dengan bayangan ancaman Rusia yang menurutnya tidak berdasar. Narasi itu, katanya, justru mendorong Eropa mendekati jurang konfrontasi, padahal Rusia menegaskan tidak mengancam dan tidak berniat mengancam negara-negara Eropa.

Batas yang dikhawatirkan terlampaui

Peringatan paling tegas muncul ketika ia menyinggung wacana pengiriman pasukan ke wilayah Ukraina oleh sebagian anggota NATO Eropa. Langkah semacam itu, menurut Putin, berarti perang dengan Rusia.

Dengan bahasa yang gamblang, ia menempatkan opsi kehadiran pasukan negara-negara aliansi di tanah Ukraina sebagai garis merah. Pesan tersebut ditujukan sebagai sinyal deteren sekaligus pembacaan atas perdebatan politik di sejumlah ibu kota Eropa.

Pergeseran politik Eropa dan ketidakpuasan publik

Putin juga menautkan dinamika politik di Uni Eropa dengan meningkatnya rasa tidak puas masyarakat terhadap kebijakan elite globalis Barat. Pergeseran pilihan politik di berbagai negara, dalam pandangannya, mencerminkan penolakan terhadap arah yang selama ini diambil para pengambil keputusan.

Dalam kerangka itu, kritik terhadap NATO dan elite kebijakan luar negeri dibingkai bukan hanya sebagai sengketa militer, melainkan juga sebagai akibat dari akumulasi keputusan strategis yang dianggapnya salah kaprah. Ia menekankan Rusia tidak mencari konflik dengan Eropa, namun menolak skenario yang dinilai menempatkan pasukan aliansi langsung berhadapan dengan kepentingannya di Ukraina.

Rangkaian pernyataan di New Delhi itu memperkuat posisi Moskow di tengah ketegangan geopolitik: menolak ekspansi aliansi, menyoroti warisan kebijakan pasca-Perang Dingin, dan memberi sinyal keras terhadap opsi pengerahan pasukan Eropa ke medan Ukraina. Publik dan pengamat kini mencermati apakah wacana di ibu kota NATO akan mereda atau justru mempertajam risiko eskalasi.

Sumber: Sindo News.

Tag: Vladimir Putin, NATO Eropa, KTT BRICS, konflik Ukraina, ekspansi NATO, kebijakan Barat, keamanan Eropa, Moskow